Ki Ageng Penjawi merupakan nama lain dari dari Adipati Pesantenan, karena terjadi kesalahpahaman beliau dengan sultan mataram, dia pergi ke daerah mancanegara (Banyumas). Di Daerah ini beliau berganti nama menjadi Ki Ageng Penjawi. Kemudian beliau dikenal dengan nama Kyai Kedung Lumbu, karena bertempat tinggal di Dukuh Kedung Lumbu Kebanaran, Mandiraja. Dalam area makam terdapat cungkup dengan panjang 10 meter dan lebar 6 meter. Di dalam cungkup inilah Ki Ageng Penjawi dimakamkan serta di kelilingi 6 batu nisan.
Dalam komplek makam Ki Ageng Penjawi terdapat juga makam seorang tokoh yang dikeramatkan yaitu makam mbah Drapasinga, beliau merupakan leluhur penduduk desa kebanaran. Selain itu terdapat juga makam Kyai AgengĀ Samparan (Pekanti/tukang penjaga kuda Kyai Ageng Penjawi). Makamnya ditandai dengan sebuah batu besar dan sebuah pohon, pemakaman Kedung Lumbu berada di sebelah timur dusun Kali Sapi dengan juru kunci bernama bapak Pariyin.
Acara Haul digelar pada hari jum'at tanggal 28 Juli 2023 di makam Ki Ageng Penjawi di desa Kebanaran, Mandiraja. Tujuan dari Haul ini yakni untuk mendoakan ahli kubur agar semua amal beserta ibadah yang dilakukan dapat diterima oleh Allah SWT. Tradisi haul diadakan dengan berdasarkan hadis dari Rasulullah SAW. Peringatan haul sedianya diisi dengan menuturkan biografi orang-orang yang alim dan shaleh guna mendorong orang lain untuk menirukan perbuatannya, pengirangan haul yang biasanya diadakan secara bersama-sama akan menjadi penting bagi umat islam untuk sekedar bersilaturahmi satu sama lain, lalu berdoa sembari memantapkan diri untuk mencontoh segala teladan dari para pendahulu/leluhur kita, serta juga menjadi forum penting untuk menyampaikan nasihat-nasihat keagamaan.
Mahasiswa KKN Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto juga turut menghadiri dan membantu pada acara haul Ki Ageng Penjawi yang digelar pada pagi hari hingga siang hari di desa Kebanaran, Mandiraja.